Review Buku Berjudul "Filosofi Teras : Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini"
Judul : Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : ke-9
Tahun Terbit : 2021
Tempat Terbit : Jakarta
ISBN : 978-602-412-518-9
Tebal : xxiv + 320 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm
Saat mendengar pertama kali judul buku ini, "di benak saya wah berat ini buku filosofi, sulit dipahami orang awam seperti saya apalagi pasti buku tebal v:,".
Dengan rasa ingin tau tentang filosofi, akhirnya saya membeli buku Filosofi Teras : Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini. Saya membeli buku ini di toko online terkenal di Indonesia (tak mau menyebutkan merk nya hehehe). Kurang lebih 3 hari perjalanan, akhirnya buku yang saya inginkan tiba di rumah dengan selamat tanpa lecet sedikitpun, mungkin karna seller nya membungkus dengan rapi. Singkat cerita langsung aku buka paket tersebut, eeh lupa bilang makasih sama mas kurir nya, ah gak masalah lah emang tugas kurir mengantarkan paket, masak mengantarkan cinta ku pada mu hehehe (maaf sedikit bucin gaes).
Lanjut kecerita tadi, setelah aku buka dengan hati-hati, Alhamdulillah barang sesuai dengan pesanan, alhasil aku membaca halaman pertama.
Gambar : halaman pertama buku
Kita lanjutkan ke halaman berikutnya ya gaes.
Filosofi Teras lahir di sebuah teras yang berpilar dihiasi lukisan, semacam alun-alun di Athena sehingga nama ajaran yang dipelopori oleh Zeno ini disebut Filosofi Stoa atau Filosofi Teras. Filosofi ini sudah ada sejak masa Yunani Kuno sekitar 300 tahun sebelum Masehi atau 2.300 tahun yang lalu, walaupun sudah lama sekali, tetapi masih relevan dengan kehidupan saat ini apalagi kita kita hidup di zaman serba canggih.
Saneca (inner joys) mengatakan bahwa "Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa dan sukacita yang terdalam, karena ia mampu menemukan kebahagiaan sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang lebih daripada sukacita yang datang dari dalam (inner joys)" (On Happy Life) hal. 27.
Menurut saya, itu menunjukkan bahwa kita harus ceria dan bahagia dengan apa yang kita punya saat ini, bukan malah mencari kebahagiaan menurut orang lain, sebab setiap individu memiliki cara bahagianya masing-masing. Kebahagiaan tidak tergantung pada banyaknya uang kita, mobil banyak, pacar banyak, dihormati orang banyak, intinya yang serba banyak-banyak lah BUKAN ITU KEBAHAGIAAN, tetapi kebahagiaan datang dalam dari diri sendiri, walaupun kita tidak punya uang, serba kekurangan tetapi, kalau kita mensyukuri maka hidup kita akan bahagia.
Selaras dengan perkataan Marcus Aurelius (Meditations), Ia mengatakan bahwa "Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu didalam diri mu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang mempengaruhi mu layaknya sebuah boneka". Hal. 100
Buku Filosofi Teras ini dibuka dengan riset sederhana mengenai Survei Khawatir Nasional yang semakin memperkuat persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Hasilnya menunjukkan bahwa ada lebih banyak orang yang merasa khawatir di dalam kehidupan ini, dengan dua dari tiga responden merasakan khawatir. Sumber kekhawatiran tertinggi adalah relationship, selanjutnya peran menjadi orang dan keuangan juga menjadi sumber kekhawatiran.
BACA JUGA
Sudah mulai ingin membeli buku ini gaes?... Kita lanjutkan
Didalam buku ini terdapat 12 bab yang sangat menarik. Bab yang paling menarik menurut ku adalah bab tujuh "Hidup di antara orang yang menyebalkan". Bab yang sesuai dengan realitas yang ada saat ini. Pernahkah kalian ketemu orang yang nyebelin? atau mungkin ketemu orang nyebelin tiap hari? Kalau gue sama teman yang nyebelin, tinggal pergi aja lah, BODO AMAT GUE, Ya begitulah hidup hehehe.
So, di dalam buku ini menjelaskan tips dari Epictetus dengan prinsip S-T-A-R, bukan artinya bintang, ini merupakan singkatan dari Stop-Think & Assess-Respond, kalau dalam bahasa Indonesia B2 + M2 (Berhenti-Berpikir & Menilai-Menanggapi) ini istilah saya sendiri untuk mempermudah reader.
Saat kita emosi membaca linimasa atau berita di media sosial, STOP! Jangan tergesa-gesa, melakukan apapun, pikirkan terlebih dahulu. Kata-kata tidak akan mengubah realitas seperti halnya ketika kita mencaci maki lukisan, maka nilai dari lukisan tersebut tidak akan berubah. Bila kita di hina di media sosial ataupun di dunia nyata biarkan lah berlalu. Seperti yang dikatakan Epictetus (Enchiridion) bahwa "kamu tidak bisa dihina orang lain, kecuali kamu sendiri yang pertama menghina dirimu sendiri". Hal. 156.
Buku Filosofi Teras ini sangat berbeda dengan buku filsafat lainnya karena filosofi teras (Stoa) digambarkan dengan contoh kejadian realitas di kehidupan sehari-hari kita dan penggunanan bahasa yang sesuai dengan generasi Milenial maupun generasi Old. Hal yang menarik dari Filosofi Teras ini terletak pada tujuannya yaitu hidup dalam ketenangan dan terbebas dari emosi negatif. Oleh karena itu, pada setiap bab Filososfi Teras terdapat pelajaran yang diambil, salah satunya yaitu dalam menjalani kehidupan harus selaras dengan alam. Di mana kehidupan berjalan sesuai kehendak pencipta-Nya dan selaras dengan alam itu berarti kita harus mengandalkan akal pikiran kita agar tidak terbawa arus yang menyimpang. Apalagi sekarang ini banyak di antara kita yang menggunakan sosmed dan sering ditemui berita hoax alias bohong, sehingga kita tidak boleh baperan (bawa perasaan) apalagi terbawa emosi. Secara keseluruhan buku ini menarik dan saya recommended banget untuk dibaca.





0 comments